Malam itu aku pulang lebih larut dari biasanya. Rumah sudah gelap, hanya lampu teras yang masih menyala. Aku membuka pintu dengan pelan, berharap tak membangunkan siapa pun. Tapi di ruang tengah, kulihat Ibu duduk sendirian. Matanya menatap kosong ke televisi yang sudah dimatikan. Di sampingnya, segelas air hangat yang belum disentuh.
“Aku dengar suara motor,” katanya pelan, tanpa menoleh.
Aku terdiam. Aku tahu Ibu menunggu. Meskipun aku sudah dewasa, bekerja, bahkan tinggal di kota lain, Ibu masih menyisakan waktu tiap malam untuk sekadar memastikan aku baik-baik saja. Kadang melalui telepon, kadang lewat doa, kadang lewat segelas air hangat di meja makan yang tak pernah kuhabiskan.
Banyak dari kita mengira bahwa orang tua akan selalu ada. Kita menunda-nunda waktu untuk pulang, menunda mengucap maaf, menunda menunjukkan kasih. Kita sibuk meraih mimpi, membuktikan diri, mengejar dunia.
Padahal, bagi orang tua, keberhasilan anak bukan soal berapa besar gajinya atau sejauh apa pencapaiannya—tapi cukup dengan tahu bahwa anaknya baik-baik saja, masih ingat pulang, dan tak lupa bagaimana caranya bersyukur.
Kadang cinta mereka hadir dalam hal-hal yang sederhana:
Dalam masakan hangat yang kita abaikan,
Dalam nasihat yang terdengar cerewet,
Dalam doa malam yang tak pernah mereka lewatkan.
Malam ini, coba tanya pada diri sendiri:
Kapan terakhir kali kamu bilang “terima kasih” pada orang tuamu?
Kapan terakhir kamu pulang bukan karena libur panjang, tapi karena rindu?
Dan saat waktu mereka tak lagi sebanyak dulu, apa kamu sudah memberi cukup waktu dari hidupmu?
Renungan malam ini adalah pengingat: bahwa kasih orang tua bukan sekadar memori masa kecil, tapi sumber kekuatan yang masih menopang langkah kita hari ini. Jangan tunggu kehilangan untuk menyadari betapa berharganya keberadaan mereka.